ATAKIWANG LEWOLEMA
Blok budaya dan alam LEWOLEMA FLORES
Wednesday, August 18, 2021
AGAMAKU PALING BENAR
AGAMAKU PALING BENAR
Saudara-saudaraku dan kawan-kawanku semua..
Jangan pernah memperdebatkan agama, agama apapun dgn siapapun. Jangan!. Agama itu untuk "diamalkan" bukan untuk diperdebatkan. Jadi penganut Islam, Katolik, Kristen, Hindu, Budha atau apapun di negeri kita ini. Siapapun yang memeluk salah satu agama, sampai mati pasti mengatakan agamaku yang paling benar. Jadi kalau ini diperdebatkan tidak akan pernah ketemu. Maka agama bukan untuk diperdebatkan tetapi untuk "diamalkan". Namun jika ada orang mengatakan semua agama itu benar itu juga keliru. Yang benar adalah, semua agama benar bagi penganutnya. Kalau semua agama benar bisa-bisa orang setiap hari gonta ganti agama, Senen Budha, Selasa Kristen, Rabu Katolik, Kamis Hindu, Jumat Islam, Sabtu darmo gandul... Minggu gandulan mbah darmo...😁. Pertahankan kerukunan.. NKRI HARGA MATI.,
Syalom... Salam Damai
Saturday, September 19, 2020
PUISI LAMAHOLOT
https://rajaview.id/WW7M9HUJydYZ4A8glGC8mh9cbIvQeYt01Dby3irW
Pete'n pete'ne lewo lodo
hukut hukut 'o nua waha
paka't makat 'o tanah nawa pe
hama e'wa rae kajo dei 'o
moe molo goe tu'de udet moe
moe wae goe da'at tanah lolo
rera bauk 'o kaka tobo lango 'e
nua no'ko 'o, hama di goe pae uli 'o
lango bele 'e, wato bele
uli o para poa
rera bauk 'o guok gete 'e
nua noko nope ala maja
kaka 'e nara raja ' oo
by : Akenera Atakiwang
Tuesday, September 26, 2017
Presiden Joko Widodo: Syarat-syarat Pemekaran Provinsi Flores Harus Dilengkapi
Presiden Joko Widodo: Syarat-syarat Pemekaran Provinsi Flores Harus Dilengkapi
KETUA Panitia Persiapan Pembentukan Provinsi Flores (P4F), Marianus Sae mengatakan, Presiden Joko Widodo meminta para pejuang pembentukan Provinsi Flores – Lembata melengkapi semua berkas persyaratan administratif pemekaran Provinsi NTT. menurut Marianus Sae, permintaan Presiden Joko Widodo itu disampaikan pada pertemuan para Bupati se – Indonesia di Bogor, dua pekan silam.
Ketua P4F, Marianus Sae mengatakan, ada momen spesial yang didapatnya ketika pertemuan para Bupati se – Indonesia di istana Bogor baru – baru ini. Sebagai Bupati, dirinya dipanggil Presiden untuk makan semeja. Momen itu dimanfaatkan juga untuk menyampaikan aspirasi soal keinginan dan kerinduan masyarakat untuk memekarkan Provinsi NTT, khusus untuk wilayah Flores dan Lembata.
“Saya sampaikan hal itu kepada Presiden. Tidak banyak komentar Presiden ketika itu. Sambil menoleh ke Mendagri, Presiden menyuruh dengan berkata singkat, segera lengkapi administrasi pemekaran tersebut,” kata Marianus Sae dalam pertemuan sosialisasi persiapan pembentukan Provinsi Flores dengan Pemkab dan masyarakat Kabupaten Manggarai, di Aula Ranaka, Kantor Bupati, Rabu (28/01).
Fakta kontras yang terjadi dalam pertemuan itu, kata Bupati Ngada ini, jumlah kursi yang disiapkan untuk para Bupati se – NTT kurang. Seharusnya jumlah kursi yang mesti disiapkan 21 sesuai dengan jumlah Kabupaten dan Kota di NTT. Keadaan ini berbeda jauh dengan Provinsi lain di Indonesia dengan jumlah Kabupatennya 5 – 8 buah saja. Kondisi itu sebenarnya menggambarkan NTT terlalu luas dan banyak sekali kabupatenya dalam satu Provinsi.
Karena itu, fakta ini harus mendorong masyarakat Flores – Lembata berjuang untuk mewujudkan impian bersama Provinsi Flores. Untuk itu pihaknya akan terus bekerja melakukan persiapan pembentukan Provinsi Flores – Lembata dengan mendatangi semua Kabupaten di Flores – Lembata.
Perjalanan keliling Flores – Lembata, kata Marianus Sae, adalah amanat dan tugas yang diberikan Mubes di Bajawa, Ngada, tahun lalu. Tugas utama adalah mendatangi semua Kabupaten di Flores dengan meminta persetujuan Pembentukan Provinsi Flores – Lembata dari Buapti, Ketua DPRD, dan para tokoh masyarakat. Karena itu, ketua P4F bersama Sekretaris Adam Jehamat telah berkeliling pada enam kabupetn dan tinggal tiga kabupaten yang akan didatangi, yakni Manggarai Timur, Flores Timur dan Lembata.
Bupati Manggarai Christian Rotok mengkonfimasi pernyataan soal permintaan Presiden Joko Widodo itu sebagaimana disampaikan ketua P4F Marianus Sae. Karena pada saat itu Bupati Rotok tidak berada jauh dari meja Presiden Jokowi dalam acara makan bersama dengan para Bupati se – Indonesia.
“Betul apa yang disampaikan itu. itu artinya aspirasi dari Flores – Lembata sudah sampai di telinga Presiden RI dan Wakil Presiden RI. Makanya, kita semua harus satukan barisan, kekuatan dan komitmen untuk mengikuti semua mekanisme dan prosedur pembentukan sebuah Provinsi,” katanya.
Sedangkan Wabup Deno Kamelus mengatakan, tidak mudah mewujudkan sebuah Provinsi. Banyak sekali ketentuan dan persyaratan yang harus dipenuhi. Di antaranya, harus ada daerah otonomi persiapan dengan waktunya minimal 3 tahun.
“Dalam ketentuan yang ada, banyak sekali ketentuan yang kita lewati. Salah satunya harus ada daerah persiapan lebih dahulu minimal 3 tahun. Kita sekarang ini sedang berproses. Kita tak boleh keluar dari regulasi yang berlaku di negeri ini,” katanya.
Sumber : Flores Pos 28 Januari 2015, hal. 16
Thursday, September 14, 2017
Budaya Lokal Flores Timur dan Pengaruh Gereja Katholik
Budaya Lokal Flores Timur dan Pengaruh Gereja Katholik

Judul: Raran Tonu Wujo
Penulis: Karl-Heinz Kohl
Tahun Terbit: 2009
Penerbit: Penerbit Ledalero
Tebal: xii + 500
ISBN: 979-978-9447-71-5
Sebelum membahas adat budaya Orang Flores Timur, Kohl mula-mula menerangkan sejarah Kerajaan Larantuka dari era Mojopahit, Portugis, Belanda sampai dengan era Negara Kesatuan Republik Indonesia. Berdasarkan mitos Lia Nurat, masyarakat Larantuka adalah hasil perkawinan antara orang gunung (Demon) dengan orang pantai (Paji) (hal. 41). Dalam mitos yang sama tetapi dalam versi yang lebih baru, juga dikisahkan masuknya orang-orang Portugis.
Pada tahun 1357, Kerajaan Larantuka menjadi bagian dari Mojopahit (hal 55). Kisah hubungan Larantuka dengan Mojopahit diingat oleh masyarakat setempat dalam bentuk mitos Pati Golo Arakian yang pergi ke barat. Sedangkan sumber sejarah (barat), Flores, khususnya Pulau Solor sudah ditemukan oleh orang Portugis di abad 16. Solor adalah pelabuhan yang penting untuk istirahat para pelayar yang memperdagangkan rempah-rempah dari Maluku ke arah barat. Namun karena tidak memiliki sumber hasil bumi, khususnya rempah-rempah, maka lama kelamaan Solor dan juga Larantuka ditinggalkan oleh para pedagang.
Mula-mula orang Portugis menguasai wilayah ini. Pada tahun 1859, melalui sebuah kesepakatan, Belanda membeli wilayah ini dari Portugis (hal. 59). Namun baru pada tahun 1909, Belanda benar-benar menguasai wilayah ini. Belanda berupaya untuk membangun wilayah ini baik secara ekonomi (penanaman jenis-jenis tanaman perkebunan, seperti kepala dan kapas), membangun trans-Flores dan mengenalkan administrasi kenegaraan yang baru. Namun upaya mengubah administrasi negara ini tidak terlalu berhasil karena Belanda hanya fokus kepada keluarga raja utama saja. Padahal persekutuan kampung memiliki otonomi yang sangat besar dan raja hanyalah berfungsi sebagai penguasa hubungan keluar saja.
Pada tahun 1945, wilayah ini menjadi bagian dari Negara Kesatuan republik Indonesia dan sejak tahun 1958 peran kerajaan menjadi semakin hilang dan digantikan bentuk baru berupa Kabupaten Flores Timur (hal. 77).
Membicarakan Flores Timur haruslah juga membicarakan misi Katholik. Sebab Agama Katholik memiliki peran yang sangat penting bagi wilayah ini. Sejak para imam Dominikan memulai misinya di Flores, Agama Katholik terus berkembang. Sejak dipegang oleh para imam Societas Verbi Divini (SVD), pelayanan Agama Katholik tidak terbatas pada urusan keagamaan saja, melainkan juga di bidang pendidikan dan kesehatan.
Ordo SVD adalah ordo yang memperhatikan ide tentang gagasan monoteisme purba pada agama-agama setempat. Pengakuan terhadap gagasan monoteisme purba ini dikembangkan oleh Pater Wilhelm Schmidt (hal. 69). Itulah sebabnya upaya Gereja Katholik untuk meneliti dan mengerti tentang agama-agama lokal sangatlah tinggi di Flores Timur. Itulah sebabnya banyak penelitian etnografi yang dilakukan di wilayah Flores. Karl-Heinz Kohl adalah salah satunya.
Kedatangan agama Katholik di Flores Timur telah menyebabkan mitos tentang penciptaan yang dipakai dalam recital upacara adat bercampur dengan cerita penciptaan dalam Kitab Kejadian. Namun demikian mitos penciptaan tersebut tetap memiliki kisah dari era yang lebih tua. Kohl mencatat bahwa dalam hal kisah terjadinya bumi, masyarakat Flores Timur telah banyak mengadopsi kisah yang ada di Alkitab. Salah satu contohnya adalah tentang cerita Kain dan Abel. Dalam salah satu versi, Kain digambarkan sebagai pihak yang membawa agama asli, sedangkan Abel adalah yang membawa agama Katholik. Dalam mitos ini dikatakan bahwa keduanya baik (hal. 105). Demikian pula dengan penyesuaian dewa-dewa lokal seperti Rera Wulan (Allah Pencipta) dan Tana Ekan yang menunjukkan dualitis dan berjenis kelamin berbeda harus disesuaikan dengan konsep Allah dalam ajaran Katholik, sehingga keduanya disebut dalam satu kesatuan. Selain konsep tentang Allah, orang Flores Timur juga percaya akan roh yang menjaga manusia yang membantu dewa pencipta (hal 112), serta roh jahat (nitun lolon dan harin botan).
Kohl kemudian masuk ke wilayah asal-muasal rakyat Belogili. Mitos tentang asal muasal rakyat Belogili ini sangat penting untuk menggambarkan hubungan masyarakat Belogili dengan masyarakat kampung lainnya. Mitos asal usul suku ini berfungsi untuk mempertahankan klain atas wilayah, khususnya area pertanian (hal. 133). Bahkan di era Republik, mitos tentang asal-usul ini dipakai dalam memecahkan sengketa tanah. Sebab hanya mitos tersebutlah satu-satunya “bukti” yang bisa dipakai dalam membahas klaim atas kepemilikan tanah.
Masyarakat Flores Timur telah memiliki sistem organisasi suku yang sangat baik dan ditaati. Sistem hubungan antara suku dan sistem kepemimpinan dalam suku sendiri telah dipraktikkan meski tidak tertulis. Misalnya aturan tentang pemilihan tuan tanah. Seorang tuan tanah selalu berupaya mewariskan jabatannya kepada anaknya, namun tua-tua suku bisa membatalkannya apabila si anak sulung tersebut dianggap tidak kompeten untuk mengemban tugas tersebut (hal, 196). Sistem organisasi suku ini tidak terlalu diperhatikan oleh Belanda waktu mengintroduksi sistem administrasi kependudukan baru. Akibatnya sistem yang dikenalkan oleh Belanda tidak mengakar pada masyarakat di Flores Timur.
Seperti halnya suku-suku tradisonal lainnya, suku-suku di Flores Timur juga memiliki pola pernikahan. Pola pernihan dalam suku tradisional biasanya berhubungan dengan pola persekutuan suku-suku atau klan-klan seperti telah dijelaskan oleh Levi-Strauss. Di Flores Timur sistem pengambilan istri memiliki pola pernikahan eksogam (mengambil istri dari kelompok/klan/suku lain). Suku A mengambil istri dari suku B. Suku B mengambil istri dari suku C, dan suku C mengambil istri dari suku A (hal. 217). Sistem yang saling memberi perempuan antar suku ini menguatkan kekerabatan diantara suku-suku. Meski demikian, sistem ini sudah sangat longgar saat ini.
Tata cara pengambilan istri secara tradisional mengijinkan seorang pemuda untuk berhubungan badan sebelum proses resmi dilakukan. Namun atas pengaruh Agama Katholik, praktik berhubungan badan sebelum pernikahan resmi tidak lagi terbuka secara umum.
Upacara kematian sangat berhubungan dengan hubungan kekerabatan. Semua prosesi yang berlangsung sampai delapan hari berhubungan dengan upaya memelihara hubungan kekerabatan antara suku si mati dengan suku pemberi istri. Upacara kematian juga dimaksudkan untuk memperbaiki keburukan si mati. Misalnya seorang yang pada masa hidupnya kikir, bisa dibuat pesta kepada Dewi Sri (Tonu Wujo) dan membagi-bagikan harta kepada warga. Ritual upacara kematian sudah banyak dipengaruhi oleh Agama Katholik. Ritual menyimpan mayat selama dua tahun sudah ditiadakan. Mayat langsung dikubur dalam waktu 24 jam. Namun ritual lainnya yang panjangnya 8 hari masih tetap dipertahankan oleh masyarakat (hal. 280).
Selanjutnya Kohl membahas kisah tentang padi yang terekam dalam mitos “Raran Tonu Wujo” - Jalan Dewi Padi. Kisah tentang Dewi Padi tak banyak beda dengan mitos-mitos padi di berbagai tempat. Dewi Padi berasal dari langit, makhluk setengah dewa yang lari ke bumi dan tubuhnya dipotong-potong menjelma menjadi tanaman padi. Yang berbeda adalah adanya tokoh api dan besi yang terlibat dalam mitos ini. Api dan Besi yang berasal dari laut datang untuk mengganggu Dewi Padi. Api dan besi menggambarkan praktik pertanian bakar ladang dan penggunaan alat pertanian. Kohl juga mencatat bahwa tanaman padi baru saja menjadi tanaman pangan utama. Menyitir catatan Vatter, pada tahun 1920-an, masyarakat lebih banyak menanam jagung daripada padi (hal. 356). Mitos Tonu Wujo ini merupakan panduan bagi keseluruhan ritual perladangan orang Flores Timur. Semua upacara dan persembahan berhubungan dengan mitos Tonu Wujo.
Karld-Heinz Kohl berhasil mendokumentasikan mitos-mitos yang berhubungan dengan konsep tentang dunia, keberadaan manusia, kekerabatan, pengorganisasian masyarakat dan sistem pangan dari masyarakat Larantuka. Pengetahuan ini berguna dalam rangka menyelaraskan praktik Agama Katholik dengan kepercayaan dan ritual lokal. Bukankah orde SVD meyakini akan adanya “api monoteisme pada agama-agama tradisional?”
Pengetahuan ini juga sangat bermanfaat dalam menyelaraskan pembangunan dengan pandangan hidup masyarakat setempat. Pengalaman Belanda yang kurang berhasil dalam menerapkan sistem administrasi kepemerintahan baru harus menjadi pelajaran bagi kita. Mengabaikan pandangan hidup setempat dalam melakukan perubahan kepada sebuah masyarakat akan menuai kegagalan.
Wednesday, July 5, 2017
GOOGLE MAP "DESA BELOGILI"
https://mapcarta.com/29211948
Belogili
- Location: Indonesia, Southeast Asia, Asia
- Latitude: 8° 12' 34.2" (8.2095°) south
- Longitude: 122° 55' 22.8" (122.923°) east
Elevation: 50 meters (164 feet)Belogili Location: Indonesia, Southeast Asia, Asia Latitude: 8° 12' 34.2" (8.2095°) south Longitude: 122° 55' 22.8" (122.923°) east Elevation: 50 meters (164 feet)
Tuesday, July 4, 2017
Kursi Dalam Ruangan" Ake Nera Atakiwang
Kursi Dalam Ruangan"
Dalam esainya yang berjudul "Reason and Belief in God", Alvin Plantinga mengemukakan bahwa setiap orang memiliki suatu noetic structure atau struktur pengetahuan (pikiran). Ini adalah kumpulan proposisi yang kita percayai, yang membentuk suatu jaringan. Suatu proposisi ditopang sementara ia menopang proposisi yang lain. Yang pasti, jika kita menelusurinya sampai ke dasar, noetic structure kita pasti memiliki fondasi, yaitu kumpulan proposisi yang tidak ditopang oleh proposisi-proposisi yang lain, karena jika kumpulan proposisi ini ditopang oleh proposisi-proposisi yang lain, maka kumpulan proposisi ini bukanlah fondasi. Proposisi-proposisi dasar ini tidak lain adalah presaposisi kita, atau dengan kata lain, worldview kita---iman kita. Setiap orang memiliki presaposisi. Jika tidak, pengetahuan menjadi tidak akan mungkin. Inilah yang dimaksud oleh Agustinus dan Anselm dengan credo ut intelligam (percaya supaya mengerti) dan fides quaerens intellectum (iman mencari pengertian). Anselm mengatakan, "Saya tidak mencari pengertian supaya percaya tetapi saya percaya supaya mengerti. Karena saya percaya akan hal ini: bahwa saya tidak akan mengerti jika saya tidak percaya." Prinsip ini berlaku dalam hal apapun, termasuk ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan tidak akan mungkin jika para ilmuwan tidak mempercayai bahwa ada keteraturan dalam kosmos, atau bahwa indera mereka dapat dipercayai. Orang Kristen pun memiliki presaposisi, misalnya bahwa Tuhan ada, manusia berdosa, dan Alkitab adalah Firman Tuhan. Worldview Kristen didasari oleh proposisi-proposisi ini.
Karena presaposisi mendasari proposisi-proposisi lain yang membentuk jaringan kepercayaan kita, maka tidak ada proposisi lain dalam jaringan itu yang diperlukan untuk menopang presaposisi kita. Dengan kata lain, presaposisi tidak memerlukan bukti. Tetapi meskipun presaposisi tidak memerlukan bukti, tidak berarti bahwa segala worldview itu sama benarnya hanya karena setiap worldview mengklaim dirinya benar. Dalam Alkitab, misalnya, ada klaim bahwa Alkitab itu adalah Firman Tuhan. Tapi begitu pula dengan Quran dan kitab Mormon. Lantas apakah dengan demikian semuanya sama-sama benar? Tentu tidak. Kita perlu tahu bahwa kebenaran adalah kebenaran, tidak peduli bagaimana kita menganggapnya. Jika benar bahwa ada kursi dalam ruangan ini, klaim seseorang bahwa tidak ada kursi dalam ruangan ini tidak menjadikan kebenaran itu salah. Di sini kita perlu mengerti dengan jelas perbedaan antara kebenaran dan klaim kebenaran. Kebenaran berhak mengklaim dirinya benar, namun tidak semua klaim kebenaran adalah benar. Lalu bagaimana kita menunjukkan bahwa klaim yang salah itu salah?
Kita dapat menguji setiap worldview dengan berbagai kriteria seperti yang dijelaskan dalam buku "Iman dan Akal Budi" dan "Konflik Wawasan Dunia" (keduanya ditulis oleh Ronald Nash). Salah satu kriteria pengujinya adalah apakah worldview tersebut dapat menjelaskan apa yang kita alami di dunia ini. Saya melihatnya demikian: kita mempunyai presaposisi dan kita membangun noetic structure kita berdasarkan presaposisi tersebut. Apa yang kita tahu dari dunia ini tentu saja haruslah dapat dijelaskan oleh proposisi-proposisi yang kita percayai, yang kita bangun dari presaposisi kita. Jika tidak, presaposisi kita perlu dipertanyakan. Kembali kepada contoh kursi, jika seseorang mengklaim bahwa tidak ada kursi dalam ruangan ini, tentunya tidak berlebihan untuk mengharapkan bahwa saya tidak akan melihat kursi ketika memasuki ruangan ini. Jika ternyata saya melihat kursi dalam ruangan ini, maka klaim tersebut perlu dipertanyakan.
Akan tetapi kriteria penguji ini saja tidak cukup. Dalam kelas berpikir kritis yang pernah saya ikuti di sekolah, kami pernah mendiskusikan tulisan Karl Popper, salah seorang filsuf yang cukup berpengaruh dalam menumbangkan positivisme logis dari Lingkungan Wina. Teori Popper yang terkenal mengenai filsafat ilmu pengetahuan adalah bahwa suatu teori adalah ilmiah hanya jika teori itu mungkin untuk dibuktikan salah, bukan jika teori itu dapat dibuktikan benar. Yang menentukan apakah suatu teori itu ilmiah adalah kemungkinannya untuk dibuktikan salah. Popper membandingkan teori Freud dan teori Adler dan ia cukup terperanjat menemukan bahwa kedua teori tersebut dapat menjelaskan suatu fenomena dengan sama baiknya. Bahkan, fenomena psikologis apa pun dapat dijelaskan dengan teori mereka. Dengan kata lain, teori mereka selalu terbukti 'benar'. Lain halnya dengan teori Einstein, misalnya. Kita bisa melakukan suatu eksperimen yang jika hasilnya adalah B dan bukan A, maka teori Einstein salah. Dari sini Popper tiba pada konklusinya. Suatu teori adalah ilmiah hanya jika teori itu mungkin dibuktikan salah. Ia menemukan bahwa teori Freud atau Adler tidak memenuhi kriteria ini. Teori mereka tidak mungkin untuk digagalkan. Karena itu teori mereka tidak ilmiah. Kemudian seorang mahasiswa, teman saya di kelas, bertanya "Lalu bagaimana dengan agama-agama? Bukankah agama-agama juga tidak mungkin digagalkan?"
Saya tidak mengatakan bahwa saya setuju dengan teori Popper (bahkan kita bisa mempertanyakan apakah teori Popper dengan kriterianya sendiri bisa dikatakan ilmiah), karena jelas kebenaran akan dinyatakan dengan sejelas-jelasnya pada saat Kristus datang kelak---dengan kata lain, segala teori mungkin untuk dibuktikan salah. Namun pertanyaan teman saya ini perlu mendapat perhatian. Setiap agama mempunyai presaposisinya masing-masing mengenai kehidupan, dan setiap agama kelihatan mampu menjelaskan kehidupan. Jika tidak, mungkin sekarang hanya tertinggal satu agama atau worldview di muka bumi ini. Apalagi di zaman postmodern yang meragukan konsep kebenaran itu sendiri, apologetika menemukan tantangan-tantangan baru. Kembali lagi kepada contoh kursi, jika benar bahwa ada kursi dalam ruangan ini dan saya memang melihat kursi dalam ruangan ini, orang skeptis, misalnya, bisa saja mengatakan, "Bagaimana kita tahu? Bukankah indera kita terbatas? Mungkin saja kita seolah-olah melihat kursi padahal tidak ada kursi." Orang relativis bisa saja mengatakan, "Kamu pikir kamu melihat kursi, aku tidak. Itu hanya tergantung kamu mau percaya apa." Lain lagi dengan orang antirealis. Ia bisa saja mengatakan, "Memang seolah-olah kita melihat kursi. Tapi apakah benar-benar ada kursi di ruangan ini? Tidak. Itu hanyalah sensasi gelombang cahaya yang menghasilkan gambar kursi di otak kita." Faktanya adalah bahwa orang akan mati-matian membela presaposisinya, karena itu menempati posisi yang paling mendasar dari seluruh noetic structure-nya. Dengan mengakui kesalahan mereka, berarti mereka harus rela menanggalkan presaposisi mereka dan membangunnya kembali dengan presaposisi yang baru. Namun mereka tidak akan dengan mudahnya membiarkan hal ini terjadi. Sementara saya bisa percaya dengan mutlak bahwa iman Kristen adalah iman yang benar, adalah sangat sulit, jika bukan mustahil bagi saya (dengan kemampuan saya sendiri) untuk secara telak meyakinkan mereka yang menganut worldview yang berbeda dengan saya bahwa worldview mereka salah. Tetapi inilah apologetika. Kita bukan sedang berperang dalam level proposisi-proposisi derivatif, yang jika digugurkan tidak akan berpengaruh terlalu banyak terhadap seluruh konsep kepercayaan seseorang. Sebaliknya kita sedang berperang dalam level proposisi-proposisi dasar---level presaposisi. Di satu sisi pengertian akan konsep presaposisi ini penting bagi kita ketika kita berapologetika, namun di sisi yang lain kita tahu ini adalah peperangan yang sangat sulit, kalau bukan mustahil.
Jadi bagaimana? Adakah jaminan keberhasilan bagi apologetika kita? Tentu. Jaminan kita ada pada Allah Tritunggal. Allah yang sejati telah mewahyukan diri-Nya melalui ciptaan-Nya dan memperlengkapi manusia untuk mengenal-Nya. Calvin mengatakan:
There is within the human mind, and indeed by natural instinct, an awareness of divinity (divinitatis sensum). This we take to be beyond controversy. To prevent anyone from taking refuge in the pretense of ignorance, God himself implanted in all men a certain understanding of his divine majesty.
Dan jika mengingat kesaksian pertobatan kita, mungkin sebagian besar dari kita percaya bukan karena argumen yang canggih, melainkan karena kesaksian hidup orang Kristen yang sungguh-sungguh memancarkan Kristus, atau karena keunikan pribadi Kristus yang kita temukan dalam Alkitab atau orang ceritakan kepada kita. Dan kita tahu ini bukanlah pekerjaan manusia. Segala argumen kita hanyalah alat di tangan Tuhan. Dialah yang mengubah hati. Di sinilah Roh Kudus bekerja---melahirbarukan kita, memberikan iman kepada kita yang mendengar Firman Tuhan.
Sebagian orang diberikan kesempatan untuk mengalami dan membandingkan beberapa worldview yang pernah mereka percayai sebelum akhirnya menerima worldview Kristen, sebagian lagi tidak melalui cara demikian. Semuanya ini, jika pada akhirnya kita dapat memiliki iman, ini hanya karena kasih karunia. Sola Gratia!
Penulis:
Ake Nera Atakiwang
Subscribe to:
Posts (Atom)